Ironisme Wakil Rakyat


 Penulis : Ahmad Yani ( Pemerhati Masalah Sosial, Politik & Ekonomi ) 

 Dalam sebuah Negara Demokrasi – kedaulatan tertinggi ada di tangan Rakyat. Kedaulatan Rakyat tersebut di Implementasikan dalam Pemilihan Umum ( Pemilu ), di mana Rakyat secara langsung memilih Para pemimpin mereka ( Presiden, Gubernur dan Bupati / walikota ) dan juga memilih secara langsung Wakil – Wakil mereka ( DPR & DPRD ) yang akan bertugas untuk memperjuangkan apa yang menjadi Aspirasi dan kepentingan bagi kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat yang memilihnya – Para Wakil Rakyat adalah sejogjannya menjadi penyambung lidah Rakyat.

 Pada Pemilu 2009 lalu, Muncul sebuah harapan dari Publik akan hadir dan terpilihnya Para Wakil Rakyat ( Anggota DPR ) – yang benar-benar memperjuangkan apa yang menjadi Aspirasi , harapan dan kepentingan Rakyat. Harapan dari Publik untuk menghadirkan dan terpilihnya Para Wakil Rakyat ( Anggota DPR ) yang memiliki Perilaku, Kinerja dan Kualitas serta memiliki sense of crisis terhadap kondisi rakyatnya yang jauh lebih baik daripada para Wakil Rakyat ( Anggota DPR ) sebelumnya periode 2004 – 2009. 

 Pemilu 2009 secara Kuantitas menghadirkan dan terpilihnya Anggota DPR periode 2009 – 2014 dengan Persentase sekitar 65 % adalah Wajah – wajah baru atau mereka yang baru pertama kali terpilih sebagai Wakil Rakyat, dan sisanya adalah para Wakil Rakyat Periode sebelumnya yang terpilih kembali sebagai Wakil Rakyat. Kuantitas anggota DPR hasil pemilu 2009 yang merupakan Para pendatang Baru di senayan, memberikan secercah harapan dan optimisme dari Publik agar sikap, Perilaku dan Polah tingkah laku serta Kinerja Anggota DPR terpilih, agar tidak terpengaruh dan terkontaminasi dengan sikap dan Polah tingkah laku para Wakil Rakyat peroide sebelumnya ( 2004 – 2009 ).

 Belum genap satu tahun masa periode Anggota DPR 2009 – 2014 , Publik di suguhkan dengan sikap dan Perilaku yang ditunjukkan dan dipertontonkan oleh Para Wakil Rakyat yang sangat Kontras dengan apa yang mereka gembor-gemborkan selama masa kampanye untuk meraih simpati Rakyat . Sikap dan Perilaku yang ditunjukkan dan dipertontonkan kepada Publik oleh Para Wakil Rakyat kian membuat Akumulasi kekecewaan dan ketidakpercayaan Publik ( Rakyat ) yang mencapai titik nadir terendah .

 Akumulasi kekecewaan dan ketidakpercayaan Publik yang kian tergerus karena sikap dan perilaku yang ditunjukkan dan dipertontonkan Para Wakil Rakyat Periode 2004 – 2009 ternyata tidak jauh berubah dengan sikap dan perilaku para Wakil Rakyat periode 2009 – 2014. Anggota DPR periode 2004 – 2009 di persepsikan dan nilai oleh Publik gagal untuk memperjuangkan apa yang menjadi Aspirasi, harapan dan kepentingan Rakyat. Dalam beberapa bulan terakhir ini, Kritikan kian keras dilontarkan berbagai element anak Bangsa melihat sikap dan polah tingkat laku para Wakil Rakyat. Sikap dan Polah tingkat laku yang ditunjukkan dan dipertontonkan oleh para wakil rakyat – tidak mencerminkan seorang Wakil rakyat yang dipilih oleh Rakyat yang sejatinya bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi, harapan dan Kepentingan kesejahteraan dan keadilan bagi Rakyat.

 Menurut Penulis, sejatinya sikap dan polah tingkat laku yang ditunjukkan dan dipertontonkan oleh para Wakil Rakyat adalah mencerminkan denyut nadi kehidupan Rakyat yang diwakilkan. Tapi di Negara ini – negeri yang katanya Negeri yang Gemah lipah roh jinawi – Sungguh Ironis keadaan dan kehidupan Rakyat yang diWakilkan dengan keadaan dan kondisi kehidupan mereka yang katanya mewakili Rakyat. 

 Nama Rakyat hanya mereka pakai dan gunakan sebagai Kamuflase untuk memperjuangkan apa yang menjadi kepentingan kelompok, Golongan, Partai dan Pribadi sendiri Wakil Rakyat – dengan mengabaikan dan mengenyampingkan apa yang menjadi kebutuhan dan kepentingan yang Real bagi kesejahteraan dan keadilan Rakyat yang diwakilkan. Sungguh Ironis memang negeri ini – ketika Rakyat yang di katanya mereka Wakili harus berjuang setengah Mati untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka – kita saksikan di media massa bagaimana Rakyat harus berlelah-lelah dan bersusah payah, yang tidak jarang menimbulkan korban jiwa hanya untuk mendapatkan pembagian Sembako Gratis dan sedekah Uang yang nilai nominalnya tidak seberapa.

 Tidak hanya itu, Masih banyak Rakyat yang mati kelaparan atau mati karena kedinginan lantaran mereka tidak memiliki Pakaian dan tempat tinggal yang layak, di saat yang sama Pula masih banyak anak Negeri yang hanya Makan Sekali sehari – Menjadi Kemewahan, Banyak anak – anak Indonesia yang menderita kekurangan gizi yang Akut ( Busung Lapar ) karena kemiskinan orang Tua mereka, Banyak orang tua yang dengan sengaja membunuh anak – anaknya karena tuntutan dan tekanan ekonomi yang tidak mampu di penuhi, Kemiskinan telah membuat jutaan anak – anak Indonesia tidak bisa mengenyam pendidikan yang memadai, kesulitan membiayai kesehatan, Kurangnya akses ke Pelayanan Publik – kemiskinan telah menyebabkan jutaan Rakyat memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan secara terbatas dan Kemiskinan dari waktu ke waktu akan terus memakan Korban Rakyat kecil. 

Inilah sekelumit kondisi dan keadaan Rakyat yang masih harus berkubang dengan Persoalan kemiskinan yang sampai saat ini tidak mampu dituntaskan dan di selesaikan oleh Para Elit Politik di negeri ini. Di Indonesia Kemiskinan hanya diperdagangkan sebagai tema kampanye Politik semata oleh Para Elit untuk meraup Suara Rakyat dalam meraih Kursi sebanyak – banyaknya dan memenangi Pemilihan Presiden. Yang dipertontonkan di ruang Publik hanya kecam mengecam soal sumber data kemiskinan. Bukan fokus pada tindakan nyata mengatasi kemiskinan.

 Bila kampanye wacana di balas wacana tetap saja orang miskin tidak diurus sehingga mati kelaparan. Menurut Penulis, Bukan Indonesia namanya, kalau Bukan negara Penuh dengan Ironisme yang menyakitkan – Lihat saja sikap, Perilaku dan polah tingkah Para Wakil Rakyat ( Anggota DPR ) yang belum genap setahun mereka dilantik telah menunjukkan tabiat Aslinya dan kerakusannya – tanpa Penulis menapikkan masih ada sebagian kecil Anggota DPR yang masih mengedepankan Hati Nurani atau memiliki sense of crisis terhadap keadaan dan kondisi rakyatnya.

 Tabiat Aslinya dan kerakusannya terlihat jelas ketika Para anggota Parlemen senayan tersebut, yang sudah bergelimang dan berlimpah dengan berbagai Macam Fasilitas “ Wah “ yang notabenenya dibiayai oleh Uang Rakyat- Mulai Rumah Dinas, kendaraan Dinas, Gaji Bulanan yang mencapai Puluhan juta Rupiah, Tunjangan, Uang Konstituen dan beragam Fasilitas mewah lainnya – yang dijumlahkan mencapai Ratusan juta perAnggota Dewan dalam sebulan, terus saja mereka memaksakan ambisi dan kehendaknya dengan memanfaatkan kekuasaan dan kewenangan yang mereka miliki untuk bagaimana mereka dapat mengeruk dan mendapatkan keuntungan yang sebanyak – banyaknya dari Uang Rakyat untuk kepentingan Kelompok, Golongan, Partai dan Pribadi sang anggota Dewan – Mulai dari Gaji dan Tunjangan bagi Para Anggota dewan yang selalu mengalami persentese kenaikan tiap tahunnya, Dana Aspirasi Per Dapil, Dana untuk Rumah Aspirasi PerAnggota Dewan, Dana Renovasi Rumah Dinas para anggota yang mencapai Miliaran Rupiah dan sederet Ambisi dan kehendak Para Anggota DPR yang tidak Masuk akal dan Realistis. 

 Kritikan, Hujatan dan Kecaman dari Publik yang dialamatkan kepada Anggota Parlemen Senayan, tidak sedikitpun menyurutkan Ambisi dan Hasrat mereka untuk dapat terus untuk mencari-cari celah agar dapat mengeruk dan memperoleh keuntungan yang lebih besar dari Uang Rakyat. Ambisi dan Hasrat untuk terus mencari celah untuk dapat mengeruk Uang Rakyat tercermin dari Rencana Pembangunan Gedung Baru DPR yang di Rencanakan Berlantai 32 dengan dilengkapi berbagai Fasilitas yang dapat memanjakan dan memuaskan para Anggota Parlemen ( Fasilitas Kolam Renang, Fasilitas SPA dan Relaksasi, Fasilitas Fitness dan beragam Fasilitas Lainnya ) dengan Menelan Anggaran Biaya Pembangunan Senilai 1,6 Triliun Rupiah, Angka yang Cukup Fantastis ditengah Kesulitan Keuangan Negara untuk memberikan Kesejahteraan bagi Rakyatnya. 

Sikap, Perilaku dan Polah tingkah para Anggota Dewan Sungguh Sangat Melukai Rasa Keadilan bagi Rakyat yang saat ini masih terus terhimpit dengan berbagai kesulitan dan Penderitaan yang semakin mendera dan tidak kunjung terselesaikan oleh Para Elit Politik di negeri ini. Jika Rencana dan Realisasi Pembangunan Gedung DPR ini terus dilakukan, Artinya Anggota Dewan Periode 2009 – 2014 telah Mati Rasa, Buta, Tuli, dan tidak memiliki Sense of Crisis terhadap teriakan dan Jeritan Kesulitan, Penderitaan, kelaparan Rakyat yang di Wakilkannya. 

 Demokrasi yang dijalankan Bangsa ini – Hanya sebatas Demokrasi Prosedural dan tidak Menghasilkan Demokrasi Substantif, Artinya Demokrasi yang kita Jalankan dan Laksanakan hanya sebatas menjalankan Aturan – aturan negara yang Berdemokrasi, tetapi dari Demokrasi tidak Menghasilkan Para Pemimpin yang memiliki Kualitas dan Kinerja yang Mumpuni, serta mengerti dan memahami Denyut nadi Kehidupan Rakyatnya.

Belum ada Komentar untuk "Ironisme Wakil Rakyat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel