Rabu, 01 September 2010

Konflik Indonesia – Malaysia : Pertaruhan Martabat Bangsa


Konflik Indonesia – Malaysia : Pertaruhan Martabat Bangsa

Penulis : Ahmad Yani ( Pemerhati Masalah Sosial, Politik & Ekonomi )

Untuk sekian kalinya Publik di Indonesia di gegerkan oleh Ulah Angkatan Laut Kerajaan Malaysia di Perbatasan. Tentara kerajaan Malaysia dengan kesembongan dan keangkuhannya memasuki Wilayah teritorial laut Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) dengan Menangkap dan Menahan Tiga Warga Negara Indonesia yang bertugas sebagai Pengawas Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang pada saat itu mencoba Mencegah dan menangkap Kapal Nelayan Milik Malaysia yang sedang berusaha melakukan Illegal Fishing ( Pencurian Ikan ) di wilayah laut Indonesia. Dalam Peristiwa tersebut Pihak tentara Indonesia berhasil menangkap dan menahan 9 orang Nelayan Malaysia yang masuk ke wilayah Indonesia, sedangkan tentara kerajaan Malaysia menangkap dan menahan 3 warga negara Indonesia dengan tuduhan memasuki wilayah laut kerajaan Malaysia.

Sontak saja, Peristiwa tersebut Menimbulkan berbagai gelombang kecaman dari berbagai element anak bangsa di tanah air – yang ditandai dengan maraknya aksi demonstrasi di hampir seluruh tanah Air yang mengutuk dan mengecam Ulah tentara Kerajaan Malaysia yang memasuki wilayah kedaulatan Indonesia dan Menahan 3 Warga Negara Indonesia. Kutukan dan Kecaman yang dialamatkan kepada Negara tetangga tersebut di ekspresikan oleh berbagai element anak bangsa dengan melakukan Pembakaran Bendera Nasional Kerajaan Malaysia di berbagai daerah dan tidak terkecuali di depan Kedutaan Besar Negara Kerajaan Malaysia di Jakarta yang menjadi Sasaran Unjuk Rasa, Yang tidak jarang Unjuk Rasa tersebut harus berakhir Anarkis dan bentrok fisik antara Para demonstran dengan Pihak keamanan. Kutukan dan kecaman juga diekspresikan dengan Pelemparan tinja ( Kotoran Manusia ) ke halaman depan kedutaan besar kerajaaN negara tetangga tersebut.

Menurut Penulis, Besarnya reaksi dan Gelombang kemarahan terhadap negara Jiran tersebut, merupakan Puncak Gunung Es akumulasi dari kemarahan dan kegeraman Rakyat Indonesia terhadap berbagai Perilaku Kesombongan dan Keangkuhan yang selama satu dasawarsa terakhir ini ditunjukkan oleh Negara Kerajaan Malaysia – Mulai dari Klaim Pulau Sipadan dan Ligitan oleh kerajaan Malaysia, yang berujung pada Sengketa wilayah di Pengadilan Mahkamah Internasional di Den Haag Belanda yang di menangkan oleh Negara tetangga tersebut. Dalam pandangan Penulis, kemenangan klaim sengketa wilayah PulaU Sipadan dan Ligitan oleh Malaysia di Pengadilan Internasional, membuat negara tetangga tersebut merasa lebih Superior daripada Indonesia – Hal itu terlihat lagi dengan berbagai Klaim wilayah yang dilakukan oleh Malaysia secara Serampangan atas Wilayah Perairan Ambalat Kalimantan Barat. Tidak hanya sampai disana Malaysia terus melancarkan berbagai Klaim termasuk klaim di bidang kebudayaan seperti Klaim terhadap Tarian Reog Ponorogo, Klaim terhadap Lagu Rasa Sayang – Sayange, Klaim terhadap Batik Indonesia, dan yang lebih menyakitkan bagi kita sebagai sebuah bangsa, Perlakuan yang tidak Manusia yang dialami oleh banyak Rakyat kita ( Indonesia ) yang bekerja di Malaysia seperti tenaga kerja wanita Indonesia yang diperkosa, tenaga kerja indonesia yang tidak dibayar gajinya, tenaga kerja indonesia yang mengalami penyiksaan fisik dan masih banyak tenaga kerja kita yang masih mendekam serta mengalami penderitaan di berbagai penjara di negara yang hanya berpenduduk 28 juta orang tersebut, dan lebih dari 168 orang warga Indonesia yang terancam hukuman mati. Bagaimanapun mereka adalah tetap Putra-putri bangsa yang merupakan bagian dari Martabat kita sebagai sebuah bangsa yang harus di Lindungi dan di jaga kehormatannya.

Sikap dan Perilaku negara yang pernah dipimpin oleh Perdana menteri Mahatir Muhammad tersebut yang sangat Arogan dan Determinisme yang berlebihan terhadap Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir ini, menurut Penulis tidak terlepas dari sikap dan Reaksi yang tidak ditunjukkan oleh Pemerintah Indonesia ( Presiden SBY ) yang terkesan melakukan Pembiaran dan tidak berbuat apa-apa untuk menyikapi berbagai sikap dan Perilaku yang ditunjukkan oleh negara bekas koloni Inggris tersebut. Sikap dan Perilaku Pemerintah Indonesia dalam hal ini Presiden SBY yang tidak Menunjukkan ketegasan sama sekali terhadap Arogansi dan determinisme yang berlebihan, semakin membuat negara jiran tersebut memandang Indonesia dengan sebelah mata dan remeh temeh – seolah – seolah kita bukan sebuah bangsa yang besar dan sebuah bangsa yang tidak perlu ditakuti oleh Malaysia. Ini juga dapat dilihat dari sikap dan Reaksi yang yang dikeluarkan oleh Pemerintah Malaysia yang merespon dan bahkan terkesan menantang Indonesia , tercermin dari tanggapan terhadap Nota Protes yang dikirimkan oleh Pemerintah Indonesia oleh Perdana Menteri Malaysia. Penulis Khawatir Sikap dan reaksi yang ditunjukkan oleh Pemerintah Indonesia yang tidak memiliki ketegasan yang nyata terhadap negara bekas koloni Inggri tersebut, akan memancing negara – negara lain yang berbatasan langsung dengan Indonesia untuk melakukan hal yang serupa dengan Malaysia untuk melakukan klaim wilayah teritorial Indonesia.
Menurut Penulis seyogjanya Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, menunjukkan ketegasan yang Nyata terhadap Malaysia atas nama Menjaga Harkat dan Martabat kita sebagai sebuah Bangsa yang besar dan berdaulat. Bangsa yang besar dan berdaulat adalah Bangsa yang mampu untuk menjaga dan melindungi wilayah teritorialnya dari rongrongan negara lain. Sikap dan Reaksi dari Pemerintahan SBY tidak hanya cukup dengan mengirimkan Nota Protes kepada Pemerintah Malaysia, yang direspon dan ditanggapi dengan sebelah mata oleh Pemerintah Malaysia. Jalur Penyelesaian “ Soft Diplomacy “ yang selama ini dijalankan oleh Pemerintah Indonesia perlu di evaluasi dan ditingkatkan menjadi “ Hard Diplomacy “ Melihat respon dan tanggapan dari Pemerintah Malaysia. “ Hard Diplomacy “ atau Diplomasi keras terhadap Malaysia tidak hanya identik dengan Perang menurut Penulis, tetapi dengan melakukan berbagai langkah-langkah strategis yang bisa membuat Malaysia berpikir dua kali untuk memandang sebelah mata dan remeh temeh terhadap kedaulatan Indonesia seperti ; Penghentian Pengiriman tenaga kerja Indonesia , Menarik Duta Besar Indonesia dan memutus Hubungan Bilateral Diplomatik , Penghentian berbagai kerjasama dalam berbagai sektor dengan negara tersebut, dan menutup Perbatasan Indonesia – Malaysia untuk mencegah pengiriman bahan-bahan kebutuhan pokok dari Indonesia ke Malaysia. Sudah Menjadi Rahasia umum, Malaysia memiliki banyak ketergantungan sumber daya terhadap Indonesia, termasuk ketergantungan Malaysia terhadap tenaga kerja Indonesia di berbagai sektor Ekonomi – jika itu Pengiriman TKI dihentikan ekonomi malaysia terancam lumpuh.

Seharusnya Pemerintahan SBY menurut Penulis harus belajar dari sikap dan reaksi yang diambil dari Founding father kita Bung Karno pada tahun 1960-an yang secara tegas mendeklarasikan Gerakan “ Ganyang Malaysia “ ketika negara tersebut mencoba merongrong kedaulatan dan Harkat Martabat kita sebagai Bangsa dengan Mengklaim berbagai wilayah teritorial Indonesia. Sikap dan Reaksi tegas Nyata yang diambil oleh Bung Karno pada saat itu membuat Malaysia harus berpikir ulang untuk memandang sebelah mata bangsa kita dan mengganggu kedaulatan dan keutuhan wilayah kita.

Merespon Pidato SBY

Pidato yang sampaikan oleh Presiden SBY di Markas Cilangkap TNI untuk menjawab tuntutan keresahan Rakyat Indonesia terhadap Arogansi dan Keangkuhan Malaysia tidak sesuai dengan apa yang menjadi harapan dan keinginan Rakyat Indonesia terhadap Malaysia. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono terkesan hanya mementingkan Persoalan-persoalan yang bersifat Pragmatis menyangkut Konflik antara Indonesia dan Malaysia, seperti adanya hubungan yang kuat di bidang Ekonomi antar ke dua negara bertetangga tersebut. Sehingga Pemerintah Indonesia tidak berani mengambil langkah-langkah tegas Nyata dan Strategis untuk merespon Arogansi dan Perilaku Barbar Malaysia. Menurut Penulis, Pertimbangan Pragmatisme Pemerintah Indonesia lebih menjadi faktor yang dominan yang harus lebih di dahulukan dan di utamakan dalam menyangkut Krisis Indonesia versus Malaysia, ketimbang menyangkut Harkat Martabat kita sebagai sebuah Bangsa yang besar dan Negara yang Berdaulat.

Penulis yakin, Pidato yang disampaikan oleh Presiden SBY untuk Merespon ketegangan antara Indonesia dan Malaysia, tidak akan mampu untuk meredam kegeraman dan Kemarahan berbagai element anak bangsa terhadap negara tetangga tersebut. Aksi-aksi Demonstrasi Anti Malaysia di tanah Air menurut hemat Penulis akan semakin Masif dan Intensif, setelah melihat respon dan tanggapan Pemerintah Indonesia ( Pemerintahan SBY ) yang bersikap tidak tegas dan lemah dalam menjawab Arogansi dan Kesombongan Malaysia. Aksi-Aksi Demonstrasi Anti Malaysia Pasca Pidato Presiden SBY juga merupakan Buntut Akumulasi Kekecewaan berbagai Element anak Bangsa terhadap Pemerintah Indonesia yang terus bersikap lembek dan lemah dalam menghadapi berbagai Manuver-Manuver Politik negara tetangga tersebut yang sangat mengancam Eksistensi kedaulatan kita sebagai bangsa.

Untuk Kesekian kalinya Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono merespon dan menjawab Arogansi dan Perilaku Barbar Malaysia dengan lembek dan Lemah. Menurut Penulis, Sikap dan Respon Pemerintah Indonesia terhadap Masalah tersebut, akan semakin membuat negara yang berpenduduk 28 juta orang tersebut akan terus merasa Superior ( lebih hebat ) dan akan terus melakukan Manuver-Manuver Politik yang akan Memandang Sebelah Mata dan Remeh-temeh terhadap Indonesia. Konflik Indonesia – Malaysia merupakan Pertaruhan Harkat Martabat kita sebagai Bangsa. Jika Malaysia yang hanya berpenduduk 28 juta orang bisa menginjak-injak harkat Martabat bangsa, memandang sebelah mata dan remeh-temeh terhadap indonesia, tidak menutup kemungkinan Bangsa-bangsa lain akan meniru apa yang dilakukan oleh Malaysia, karena Pemerintah Indonesia tidak memiliki ketegasan dan keberanian untuk membela Harkat Martabat bangsanya……..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar